BERITADESTINASI WISATAInternasionalNasionalPALEMBANGSUMSELNEWS

Fenomena Bulan Sabit dan “Bintang Kejora” Hiasi Langit, Bukan Pertanda Bencana

14
×

Fenomena Bulan Sabit dan “Bintang Kejora” Hiasi Langit, Bukan Pertanda Bencana

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG — Pemandangan Bulan sabit yang terlihat berdekatan dengan sebuah objek sangat terang di langit menarik perhatian masyarakat. Fenomena tersebut juga ramai dikaitkan dengan berbagai anggapan, mulai dari pertanda baik hingga kemungkinan datangnya peristiwa buruk.

Namun secara astronomi, objek terang yang tampak seperti bintang tersebut adalah planet Venus, yang di Indonesia populer disebut Bintang Kejora.

Fenomena pada 14 September 2026 bahkan lebih istimewa karena terjadi okultasi Venus oleh Bulan, yakni ketika Bulan melintas di depan Venus dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa fenomena okultasi Venus dapat diamati dari sejumlah wilayah Indonesia. Secara umum, peristiwa berlangsung pada kisaran 19.30–20.43 WIB, meskipun waktunya berbeda menurut lokasi pengamatan.

Di Palembang, berdasarkan perhitungan astronomi yang dipublikasikan InfoAstronomy, Venus mulai tertutup Bulan sekitar 19.50 WIB. Ketika itu posisi keduanya sudah cukup rendah di langit sebelah barat.

Bentuk Bulan yang masih berupa sabit juga membuat pemandangan semakin menarik. Bagian Bulan yang tidak terkena cahaya Matahari secara langsung masih dapat terlihat samar akibat fenomena earthshine, yaitu cahaya Matahari yang dipantulkan Bumi menuju permukaan Bulan.

Bukan Pertanda Buruk

Munculnya Bulan dan Venus berdekatan terkadang dihubungkan dengan kepercayaan mengenai bencana, peperangan, kematian tokoh ataupun perubahan besar.

Namun belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan konjungsi maupun okultasi Bulan–Venus dapat menyebabkan atau meramalkan gempa bumi, tsunami, wabah, konflik maupun bencana lainnya.

Secara astronomi, fenomena tersebut terjadi akibat pergerakan orbit Bulan dan Venus serta posisi pengamat di Bumi. Kedua benda langit itu hanya tampak berdekatan dari garis pandang manusia, bukan berarti keduanya benar-benar berada berdekatan di ruang angkasa.

Demikian pula anggapan bahwa fenomena tersebut merupakan pertanda datangnya keberuntungan, rezeki atau perubahan nasib tidak mempunyai dasar dalam ilmu astronomi.

Dalam perspektif Islam, fenomena benda-benda langit dapat dipandang sebagai bagian dari tanda kebesaran Allah. Namun posisi Bulan, planet maupun bintang tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan nasib baik atau buruk seseorang.

Fenomena Bulan dan Venus September 2026 dengan demikian lebih tepat dipahami sebagai peristiwa astronomi yang dapat dihitung dan diprediksi sebelumnya, sekaligus menjadi kesempatan masyarakat untuk mengenal lebih jauh keteraturan pergerakan benda-benda langit.(redaksi)