METRO, LAMPUNG – Upaya pencegahan penyakit tidak menular terus menjadi perhatian kalangan akademisi. Melalui program Kuliah Kerja Lapangan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM), mahasiswa Universitas Malahayati Bandar Lampung menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat berbasis data kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan deteksi dini penyakit diabetes melitus di RW 06, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro.
Program bertajuk SIGAP-DM Banjarsari (Sosialisasi dan Gerakan Aksi Pencegahan Diabetes Melitus) tersebut dilaksanakan sejak 13 Juli hingga 21 Agustus 2026 sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan edukatif dan berkelanjutan.
Sebanyak 20 mahasiswa lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam Kelompok KKL-PPM 29 berkolaborasi menjalankan program tersebut. Tim berasal dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Hukum, Akuntansi, Manajemen, Teknik Sipil, Teknik Industri, hingga Teknik Lingkungan, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Vito Zhafran Octonariz, M.S.Farm.
Berangkat dari Tingginya Kasus Diabetes di Indonesia
Program ini lahir dari meningkatnya prevalensi diabetes melitus di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar di sektor kesehatan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, prevalensi diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 11,7 persen, atau diperkirakan mencapai lebih dari 20 juta penyandang diabetes. Indonesia pun tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.
Yang menjadi perhatian, sebagian besar penderita belum mengetahui kondisi kesehatannya sehingga baru mendapatkan penanganan setelah muncul berbagai komplikasi.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKL-PPM Universitas Malahayati menghadirkan model edukasi yang tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga memanfaatkan data hasil pemeriksaan kesehatan warga sebagai dasar intervensi yang lebih tepat sasaran.
Manfaatkan Data Cek Kesehatan Gratis
Hasil observasi di RW 06 Kelurahan Banjarsari menunjukkan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan seperti Posyandu, Posbindu, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah berjalan secara rutin.
Namun, data hasil pemeriksaan, khususnya kadar gula darah masyarakat, selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar penyusunan program edukasi maupun identifikasi kelompok berisiko.
Melalui SIGAP-DM Banjarsari, mahasiswa menghadirkan sistem yang menghubungkan data skrining kesehatan dengan kegiatan penyuluhan sehingga informasi yang diberikan menjadi lebih relevan dengan kondisi masyarakat setempat.
Edukasi Digital dan Penguatan Kapasitas Kader
Sebagai implementasi program, tim mahasiswa menyusun majalah edukasi kesehatan yang membahas faktor risiko diabetes, gejala awal, pola hidup sehat, pengaturan konsumsi gula, serta pentingnya pemeriksaan gula darah secara berkala.
Majalah tersebut dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk cetak sekaligus tersedia dalam format digital yang dapat diakses melalui kode QR, sehingga materi edukasi tetap dapat dimanfaatkan setelah program KKL-PPM berakhir.
Selain itu, mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada kader Posyandu mengenai cara membaca hasil pemeriksaan kesehatan, mengidentifikasi warga yang memiliki faktor risiko diabetes, serta melakukan pencatatan berbasis Google Form dan Google Spreadsheet agar pendataan menjadi lebih sistematis dan mudah diperbarui.
Mengedepankan Partisipasi Masyarakat
Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam setiap tahapan program.
Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi, diskusi kelompok bersama warga dan perangkat kelurahan, pelatihan kader, pendampingan penyuluhan di setiap RT, hingga evaluasi melalui metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan masyarakat.
Tim menargetkan sedikitnya 80 persen peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai pencegahan diabetes, sementara 80 persen kader kesehatan mampu mengidentifikasi kelompok masyarakat yang berisiko berdasarkan data skrining yang tersedia.
Dukung Pembangunan Kesehatan Berkelanjutan
Melalui program SIGAP-DM Banjarsari, mahasiswa Universitas Malahayati berharap tercipta sistem edukasi kesehatan masyarakat yang dapat terus berjalan meskipun masa KKL-PPM telah selesai.
Program tersebut juga diharapkan menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, kader kesehatan, dan masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular melalui pemanfaatan data kesehatan, edukasi berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat.
Sejalan dengan tujuan tersebut, kegiatan ini turut mendukung implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek peningkatan derajat kesehatan masyarakat, penguatan kapasitas komunitas, dan pembangunan kemitraan lintas sektor.
(Tim Liputan)













