BERITAPALEMBANGSUMSELNEWS

PLN Diminta Mencontoh Negara Maju, LSM Panglima Nusantara Dorong Modernisasi Jaringan Listrik untuk Kurangi Pemadaman

4
×

PLN Diminta Mencontoh Negara Maju, LSM Panglima Nusantara Dorong Modernisasi Jaringan Listrik untuk Kurangi Pemadaman

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG – Rencana pemadaman listrik terjadwal yang dilakukan PT PLN (Persero) di sejumlah wilayah Palembang pada Selasa, 28 Juli 2026, kembali memunculkan harapan masyarakat agar pelayanan kelistrikan semakin andal. Pemadaman yang dilakukan untuk pemeliharaan jaringan, perbaikan konstruksi, dan pemangkasan pohon dinilai penting dari sisi keselamatan. Namun, masyarakat berharap langkah tersebut tidak terus menjadi solusi yang berulang.

Ketua Umum LSM Panglima Nusantara, Andy Nopiansyah, SH, CPLA, menilai PLN perlu menyusun langkah jangka panjang dengan mengadopsi teknologi yang telah diterapkan di sejumlah negara maju.

“Kami mendukung upaya pemeliharaan jaringan demi keselamatan masyarakat. Namun, PLN juga harus memiliki terobosan agar pemadaman tidak terus menjadi rutinitas. Masyarakat membutuhkan listrik yang andal karena hampir seluruh aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik bergantung pada pasokan listrik,” ujarnya.

Negara Maju Sudah Beralih ke Jaringan Modern

Andy menjelaskan, sejumlah negara seperti Singapura, Jepang, Belanda, Jerman, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris telah mengembangkan jaringan listrik bawah tanah, khususnya di kawasan perkotaan dan pusat bisnis. Sistem tersebut dinilai lebih aman, lebih rapi, serta mampu mengurangi gangguan akibat cuaca ekstrem, pohon tumbang, maupun kabel putus.

Menurutnya, Indonesia memang memiliki tantangan geografis yang jauh lebih kompleks dibanding negara-negara tersebut. Namun, hal itu bukan berarti modernisasi tidak dapat dilakukan.

Kabel Bawah Tanah Bisa Dimulai Bertahap

LSM Panglima Nusantara mendorong PLN untuk mulai menerapkan jaringan kabel bawah tanah secara bertahap di wilayah yang memiliki tingkat aktivitas tinggi, seperti pusat kota, rumah sakit, kawasan industri, bandara, pelabuhan, dan fasilitas pelayanan publik.

Langkah tersebut diyakini dapat mengurangi frekuensi pemadaman akibat gangguan eksternal sekaligus meningkatkan keselamatan masyarakat.

“Indonesia memang tidak bisa langsung mengganti seluruh jaringan menjadi kabel bawah tanah karena membutuhkan investasi yang besar. Namun, PLN dapat memulai dari kawasan strategis sebagai proyek prioritas,” kata Andy.

Modernisasi Jaringan Menjadi Kebutuhan

Selain penggunaan kabel bawah tanah, Andy juga meminta PLN mempercepat pembangunan smart grid atau jaringan listrik pintar yang mampu mendeteksi gangguan secara otomatis. Dengan sistem tersebut, kerusakan dapat diketahui lebih cepat sehingga wilayah terdampak pemadaman menjadi lebih kecil.

Ia juga mendorong PLN untuk mengganti kabel dan gardu yang telah berusia tua, memperkuat inspeksi jaringan menggunakan teknologi digital, serta melakukan pemangkasan pohon secara berkala sebelum berpotensi mengganggu jaringan listrik.

Transparansi kepada Pelanggan Harus Ditingkatkan

Di samping peningkatan infrastruktur, LSM Panglima Nusantara menilai komunikasi kepada pelanggan juga perlu diperbaiki. Informasi mengenai jadwal pemadaman, penyebab, serta estimasi waktu normalisasi harus disampaikan secara cepat melalui berbagai saluran komunikasi agar masyarakat dapat mempersiapkan aktivitasnya.

Menurut Andy, pelayanan publik tidak hanya diukur dari keberhasilan memperbaiki jaringan, tetapi juga dari kemampuan memberikan kepastian informasi kepada pelanggan.

Harapan untuk PLN

LSM Panglima Nusantara berharap PLN terus melakukan inovasi agar pelayanan listrik di Indonesia semakin setara dengan negara-negara maju.

“Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang mustahil. Kami hanya berharap PLN memiliki peta jalan yang jelas menuju sistem kelistrikan yang lebih modern, minim pemadaman, aman, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Jika negara lain mampu meningkatkan keandalan listrik melalui inovasi, Indonesia juga memiliki peluang untuk mencapainya secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi geografis,” tutup Andy.