BANYUASINBERITASUMSELNEWS

46 TAHUN IKAMULYA, JEJAK PERJUANGAN TRANSMIGRAN DI AIR SALEK DIABADIKAN LEWAT SEDEKAH BUMI

13
×

46 TAHUN IKAMULYA, JEJAK PERJUANGAN TRANSMIGRAN DI AIR SALEK DIABADIKAN LEWAT SEDEKAH BUMI

Sebarkan artikel ini

BANYUASIN — Empat puluh enam tahun perjalanan Dusun Ikamulya, Desa Enggal Rejo, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, akan diperingati secara meriah pada 28 Agustus 2026. Momentum tersebut bukan sekadar perayaan hari jadi, tetapi menjadi ruang mengenang perjuangan generasi pertama transmigran yang membuka kawasan tersebut sejak 1980.

Ketua Panitia Bersih Dusun Ikamulya, Jumono, mengatakan tanggal 28 Agustus 1980 terus dikenang masyarakat sebagai momentum bersejarah ketika para pendahulu pertama kali menginjakkan kaki di wilayah Air Salek.

Menurut penuturan warga, kedatangan mereka saat itu merupakan bagian dari program transmigrasi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kondisi wilayah masih jauh berbeda dibandingkan sekarang.

“Ketika pertama datang, kawasan ini masih bisa dikatakan hutan belantara. Masyarakat membuka lahan dengan peralatan seadanya dan membuat jalan permukiman secara bergotong royong. Untuk kebutuhan konsumsi, saat itu masih mendapatkan jatah dari pemerintah,” tutur Jumono.

Kisah mengenai keberadaan komunitas transmigran Jawa di Enggal Rejo juga tercatat dalam penelitian akademik Universitas Sriwijaya. Penelitian tersebut mengkaji kehidupan transmigran Jawa di Desa Enggal Rejo dan menemukan kuatnya nilai persaudaraan, gotong royong serta solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. (repository.unsri.ac.id)

Dari UPT 4 hingga Bernama Ikamulya

Berdasarkan sejarah yang dituturkan masyarakat, kawasan tersebut awalnya dikenal sebagai Unit Pemukiman Transmigrasi 4 (UPT 4).

Dalam perkembangannya, permukiman itu sempat diberi nama Intanan Mataram. Namun masyarakat kemudian kembali bermusyawarah karena nama tersebut dianggap terlalu memberikan kesan kedaerahan.

Melalui kesepakatan warga, nama tersebut akhirnya disempurnakan menjadi Ikamulya, yang bertahan dan menjadi identitas masyarakat hingga sekarang.

Perjalanan itu menjadi bukti bagaimana kawasan yang dahulu dibuka dengan keterbatasan perlahan tumbuh menjadi permukiman yang memiliki identitas, tradisi dan kehidupan sosial sendiri.

Sedekah Bumi sebagai Ungkapan Syukur

Setiap tahun masyarakat Ikamulya memperingati perjalanan kampung tersebut melalui tradisi yang dikenal dengan berbagai sebutan, mulai dari Hari Jadi Dusun, Bersih Dusun hingga Sedekah Bumi.

Rangkaian kegiatan diisi dengan penyembelihan kambing dan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kehidupan, hasil bumi serta kebersamaan masyarakat.

Tradisi semacam ini memiliki akar sosial yang kuat di Enggal Rejo. Penelitian Universitas Sriwijaya mengenai tradisi kenduri masyarakat transmigran Jawa di desa tersebut menyimpulkan adanya nilai persaudaraan, gotong royong dan solidaritas yang memperkuat hubungan sosial masyarakat. (repository.unsri.ac.id)

12 Klub Bertarung di Ikamulya Cup

Peringatan tahun ini juga dimeriahkan dengan Turnamen Bola Voli Ikamulya Cup yang memperebutkan piala bergilir.

Ketua Umum Karang Taruna Desa Enggal Rejo sekaligus anggota Panitia Hari Jadi Dusun Ikamulya, Wiyono, mengatakan turnamen tahun ini diikuti 12 klub bola voli.

Peserta tidak hanya berasal dari Ikamulya. Sejumlah klub dari desa sekitar, termasuk Saleh Mukti dan Srikaton, turut meramaikan pertandingan.

Turnamen tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan silaturahmi masyarakat antarwilayah di Kecamatan Air Salek.

Wayang Kulit Jadi Puncak Perayaan

Puncak peringatan 46 Tahun Ikamulya dijadwalkan berlangsung pada 28 Agustus 2026 dengan pagelaran wayang kulit.

Pagelaran tersebut sekaligus menjadi simbol bahwa pembangunan sebuah wilayah tidak harus menghilangkan akar budaya masyarakatnya.

Dari kawasan yang dahulu digambarkan warga sebagai hutan belantara, Ikamulya kini telah tumbuh melewati perjalanan hampir setengah abad.

Generasi pertama membuka lahan dengan alat sederhana, membangun jalan dengan gotong royong dan bertahan dalam berbagai keterbatasan. Generasi berikutnya kemudian melanjutkan pembangunan sekaligus mempertahankan tradisi yang diwariskan para pendahulu.

Peringatan 46 tahun Ikamulya pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang 28 Agustus 1980. Momentum itu menjadi penghormatan kepada para perintis yang membangun kehidupan baru di Air Salek serta pengingat bagi generasi muda bahwa kampung yang mereka tempati hari ini lahir dari perjuangan, persatuan dan gotong royong.(Yani Enggal Rejo)