BERITALAMPUNG

KKL-PPM 79 UNMAL Sentuh Sisi Emosional Pelajar, Kampanye Anti-Bullying di SMA Yos Sudarso Metro

12
×

KKL-PPM 79 UNMAL Sentuh Sisi Emosional Pelajar, Kampanye Anti-Bullying di SMA Yos Sudarso Metro

Sebarkan artikel ini

METRO, LAMPUNG — Edukasi mengenai kenakalan remaja dan perundungan tidak selalu harus disampaikan melalui materi yang kaku. Pendekatan yang menyentuh sisi emosional justru dapat membuka ruang bagi pelajar untuk memahami pentingnya menghargai diri sendiri sekaligus menghormati orang lain.

Pendekatan tersebut dilakukan mahasiswa Kelompok Kuliah Kerja Lapangan–Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) 79 Universitas Malahayati (UNMAL) saat menggelar kegiatan edukasi di SMA Yos Sudarso Metro, Yosorejo, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, Lampung, Kamis (13/8/2026).

Mengusung tema “Rapihkan Sejak Muda untuk Masa Depan yang Tertata”, kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pelajar mengenai risiko kenakalan remaja, pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang sehat, serta membangun keberanian untuk mencegah dan menolak segala bentuk bullying.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, mahasiswa KKL-PPM 79 mencoba membawa pesan tersebut lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa.

Edukasi Dikemas Interaktif

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembahasan mengenai kenakalan remaja dan berbagai konsekuensi yang dapat muncul akibat salah memilih pergaulan maupun mengambil keputusan.

Para siswa diajak memahami bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter. Keputusan yang terlihat sederhana hari ini dapat memberikan pengaruh terhadap pendidikan, hubungan sosial, bahkan perjalanan masa depan seseorang.

Untuk menjaga suasana tetap komunikatif, mahasiswa kemudian menyisipkan sesi ice breaking sebelum memasuki pembahasan mengenai pencegahan bullying.

Dalam sesi tersebut, siswa diberikan pemahaman bahwa perundungan bukan sekadar persoalan pertengkaran antarpelajar. Ucapan merendahkan, mempermalukan, mengucilkan, intimidasi, maupun tindakan lain yang dilakukan berulang dan menimbulkan tekanan terhadap seseorang juga perlu mendapat perhatian.

Pesan yang dibangun bukan hanya agar pelajar tidak menjadi pelaku bullying, tetapi juga berani mengambil sikap ketika melihat teman mengalami perundungan serta membangun lingkungan sekolah yang saling menghormati.

Suasana Berubah Haru

Bagian paling menyentuh justru hadir setelah penyampaian materi selesai.

Mahasiswa KKL-PPM 79 mengajak siswa mengikuti sesi refleksi melalui butterfly hug, sebuah gerakan sederhana dengan memeluk diri sendiri sambil memberikan kesempatan kepada peserta untuk menenangkan diri dan melakukan refleksi.

Suasana yang sebelumnya penuh interaksi perlahan berubah menjadi lebih tenang.

Para siswa diajak berhenti sejenak dari aktivitas mereka, mengingat berbagai perjalanan yang telah dilalui, sekaligus memahami pentingnya memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

Pesan sederhana disampaikan bahwa setiap orang mungkin memiliki persoalan, tekanan, kegagalan maupun pengalaman yang tidak selalu diketahui orang lain. Karena itu, menghargai diri sendiri menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ketahanan pribadi.

Momen tersebut semakin emosional ketika mahasiswa membagikan permen yang disertai catatan kecil berisi afirmasi dan pesan penyemangat kepada masing-masing siswa.

Saat membaca pesan yang diterima, sejumlah siswa tampak terdiam. Beberapa di antaranya bahkan terlihat meneteskan air mata.

Di tengah kegiatan edukasi yang awalnya berbicara mengenai kenakalan remaja dan bullying, muncul sebuah ruang refleksi yang mempertemukan pelajar dengan perasaan mereka sendiri.

Pesan Kecil yang Punya Arti Besar

Bagi mahasiswa KKL-PPM 79, respons para siswa menjadi pengalaman tersendiri.

Mereka melihat bahwa edukasi kepada generasi muda tidak semata-mata berbicara mengenai larangan atau aturan, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi remaja untuk didengar, dihargai dan mendapatkan dukungan positif.

Sebuah kalimat penyemangat mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan, kehilangan kepercayaan diri, persoalan pertemanan maupun kesulitan lainnya, pesan tersebut dapat mempunyai makna berbeda.

Dari sinilah kegiatan KKL-PPM 79 mencoba membawa pesan bahwa pencegahan bullying juga dapat dimulai dari kemampuan seseorang menghargai dirinya sendiri.

Ketika seorang remaja mampu mengenali nilai dirinya, diharapkan tumbuh pula kesadaran untuk tidak merendahkan atau menyakiti orang lain.

Harapkan Pelajar Berani Menolak Bullying

Kelompok KKL-PPM 79 berharap kegiatan tersebut tidak berakhir setelah mahasiswa meninggalkan lingkungan sekolah.

Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa SMA Yos Sudarso Metro untuk lebih berhati-hati dalam menentukan pergaulan, berani menjauhi perilaku negatif, serta ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Para siswa juga diharapkan semakin berani berkata tidak terhadap bullying, baik ketika berpotensi menjadi korban maupun saat menyaksikan tindakan perundungan terhadap orang lain.

Dukungan pihak SMA Yos Sudarso Metro, para guru, siswa, pemateri dan pihak-pihak yang terlibat turut menjadi bagian penting dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

Antusiasme siswa menunjukkan bahwa pendidikan karakter tetap menjadi bagian penting dalam proses pendidikan generasi muda, berdampingan dengan pencapaian akademik.

Melalui kegiatan pengabdian tersebut, mahasiswa KKL-PPM 79 Universitas Malahayati mencoba meninggalkan satu pesan sederhana: masa depan yang tertata tidak hanya dibangun melalui prestasi, tetapi juga melalui kemampuan menjaga diri, menghargai sesama dan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebab perubahan besar tidak selalu bermula dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia dapat dimulai dari keberanian untuk menghargai diri sendiri, satu pelukan sederhana, dan satu kalimat yang mengatakan bahwa “kamu berharga.”

(Tim PWDPI)