BANYUASIN – Di tengah fluktuasi harga komoditas perkebunan, nama Sarwanto (39), warga Desa Enggal Rejo, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dikenal sebagai salah satu pengusaha kelapa yang berhasil membangun usahanya dari nol hingga berkembang menjadi pemilik gudang kelapa terbesar di Kecamatan Air Salek.
Berawal dari usaha berskala kecil, Suwanto mengembangkan bisnisnya dengan mengedepankan kejujuran, komitmen, dan hubungan baik dengan para petani. Hingga tahun 2026, gudang kelapa miliknya telah menjalin kemitraan dengan sekitar 328 pelanggan atau pemasok kelapa dari berbagai desa di Kecamatan Air Salek maupun wilayah sekitarnya.
Selain menjadi pusat pemasaran hasil panen masyarakat, usaha yang dikelola Suwanto juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat. Aktivitas bongkar muat, penyortiran, pengupasan, hingga pengolahan kelapa menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga di desa tersebut.
Tak hanya bergerak pada perdagangan kelapa bulat, Suwanto juga mengembangkan usaha pengolahan kopra berkualitas 1 yang dipasarkan ke berbagai daerah. Menurutnya, menjaga kualitas produk menjadi salah satu kunci agar hasil pertanian masyarakat memiliki daya saing di pasar.
Namun, di balik perkembangan usahanya, Suwanto mengaku prihatin terhadap kondisi harga kelapa yang terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
“Saat ini harga kelapa turun hingga sekitar Rp2.100 per kilogram. Padahal beberapa waktu lalu harga kelapa pernah mencapai Rp7.500 sampai Rp8.000 per kilogram. Penurunan ini tentu sangat dirasakan para petani maupun pelaku usaha. Kami juga memproduksi kopra kualitas 1 agar nilai jual tetap terjaga, tetapi kondisi pasar tetap menjadi tantangan besar. Saya berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap stabilitas pasar kelapa agar masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha, dapat kembali sejahtera,” ungkap Sarwanto.
Menurutnya, komoditas kelapa merupakan salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Air Salek. Ketika harga turun drastis, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pedagang, tetapi juga petani, pekerja harian, jasa angkut, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada perputaran ekonomi kelapa.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Usaha LSM Panglima Nusantara, Andy Nopiansyah, S.H., menilai bahwa sektor perkebunan kelapa perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar karena menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Kecamatan Air Salek.
“Usaha yang dibangun dari bawah hingga mampu menjalin kemitraan dengan ratusan pelanggan menunjukkan pentingnya menjaga kepercayaan dalam dunia usaha. Keberhasilan seorang pelaku usaha tidak hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ketika harga kelapa turun drastis, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh mata rantai ekonomi di daerah tersebut. Karena itu diperlukan perhatian pemerintah melalui kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga dan memperkuat daya saing komoditas kelapa nasional,” ujar Andy Nopiansyah.
LSM Panglima Nusantara berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memberikan dukungan nyata kepada petani dan pelaku usaha kelapa melalui kebijakan yang berpihak pada stabilitas harga, perluasan akses pasar, penguatan industri hilir, serta peningkatan nilai tambah produk olahan seperti kopra.
Dengan pengalaman membangun usaha dari bawah hingga menjadi salah satu sentra perdagangan kelapa terbesar di Air Salek, Suwanto berharap komoditas kelapa kembali memperoleh nilai jual yang layak sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan roda perekonomian desa terus berputar secara berkelanjutan.













